Jumat, 09 Mei 2008

SAJAK BOLA

Sajak Bola [1]
Oleh M Djoko Yuwono

Dul...
bola melambung

Dul...
bola melesat

Dul...
bola menyundul langit

Dul...
bola menabrak awan

Dul...
matahari tersungkur

: Priiiittt...
siapa melakukan pelanggaran
wahai
Sang Pengadil pun memberi peringatan
sebelum permainan usai
jakarta, 18 juni 2002

Sajak Bola [2]
Oleh M Djoko Yuwono

Dul-dal-dul...
Isya
Dul-dal-dul...
Lohor
Dul-dal-dul...
Asyar
Dul-dal-dul...
Magrib

[Kok dul-dal-dul terus, kapan salatnya?]
jakarta, 18 juni 2002


Duka Bunda Pertiwi

[bagimu anak negeri]
OlehYuwono
Berduka, berdukalah Bunda Pertiwi
senandungkan lagu sendu
:betapa hatiku tak kan pilu…

Berduka, berdukalah Bunda Pertiwi
derasnya air matamu
menghentakkan putra-putri negeri
tentang hari yang tak pernah pasti

Belum terkebumikan riwayat satu duka
terkoyak duka demi duka baru
tak terpahamkan oleh anak-anak negeri
kenapa
kenapa
tak ada tawar-menawar
sang alam mengusung bencana demi bencana
terlalu absurd
kuasa-Nya bergerak ke segala arah

Berduka, berdukalah Bunda Pertiwi
kirimkan doa bagi Zat Segala Zat:
“Laa ilaaha illalaahul kariimul 'azhiimu. Subhaanahu tabaarakalaahu rabbul 'arsyil 'azhiimi. Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiina. Allaahumma rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban naari.”
BUKU HARIAN
Hatiku pasi, ya Rabbi
kuserahkan sisa potongan musim silam
sementara aku belum paham
siapa saja yang akan lagi menyayat nafasku
menggali riwayatku
menganiaya buku harianku
membantai sejarahku
mengoyak luka lamaku

Riwayat kukebumikan rapat di pusara waktu
sementara aku belum paham
ketika Engkau memucatkan jiwaku
menambah catatan buku harianku
sebelum kutumpuk menjadi monumen
abadi

Bunda

di Mrapen