Selasa, 18 November 2008

ASTHABRATA

ASTHABRATA

Ajaran ASTHABRATA pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran ini terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pangkur, jumlah bait 35 buah.

Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana dan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menandingi kesaktian Rama. Ia gugur oleh panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.

Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan Rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama bala tentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata:

  1. Sang Hyang Indra adalah Dewa Hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.
  2. Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat tanpa pandang bulu.
  3. Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.
  4. Sang Hyang Candra adalah Dewa Bulan. Dia selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepad asiapa saja.
  5. Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat dikethaui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya.
  6. Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai penyandang dana.
  7. Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak tumpah. Hynag Batuna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.
  8. Sang Hyang Brama adalah Dewa Api. sifat api bisa membakar menghanguskan dan memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

Orasi Budaya Sri Sultan Hamengku Buwono X

Orasi Budaya: Berbakti bagi Ibu Pertiwi
Oleh Sultan Hamengku Buwono X

Latar Belakang

BAIT lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman: ".....bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.....", seharusnya dapat menyentuh hati, menginspirasi pikiran dan menggerakkan tindakan dari segenap anak bangsa untuk bangkit “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi” meraih kejayaan bangsa.

Kini, di usia menjelang ke-62 tahun, Indonesia sudah menjadi Ibu Pertiwi yang tua-renta, seakan kehabisan energi dan kehilangan masa depannya. Indonesia, Ibu Pertiwi kita ini, dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan yang menjual harga diri kita sebagai bangsa. Entahlah, mengapa kita menggadaikan negeri ini kembali ke kaum penjajah, yang sepanjang sejarah sudah kita lawan bersama.

Sekarang ini, Ibu Pertiwi sedang tertatih-tatih sambil menangis di tengah pertarungan global yang ketat dan keras. Kondisi ini terjadi, akibat penderitaan beruntun yang menghantam wajah Negeri ber-Sang Saka Merah-Putih ini. Memang, hidup penuh air mata seringkali menjadikan kita kebal, mungkin karena hilang harapan atau bahkan tidak peduli, sepertinya tidak ada yang perlu dipertaruhkan lagi.

Kini Ibu Pertiwi termenung sendiri, merana, menangis dan berdoa. Bukan saja karena melihat anak-anaknya sedang bertikai tiada henti. Tetapi, ia juga sedang mengandung bayi reformasi, yang belum juga kunjung lahir dari rahimnya. Kita berdoa, semoga itu anak terakhir, dan menjadi Parikesit dalam menapaki era baru seperti episode Mahabarata.

Sekaranglah saatnya kita tunjukkan, bahwa kita mampu bangkit dari keterpurukan dan “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi”, seperti John F. Kennedy yang mengatakan: "Jangan bertanya apa yang sudah diberikan bangsa ini kepada kita, tetapi tanyakan apa yang sudah kita berikan terhadap bangsa ini". Now is the right time in 'Devoting to our Mother Land'.

Ruh Yogya untuk Indonesia

KETIKA saya menerima gagasan akan digelar wacana tentang Keistimewaan DIY (2), ada perasaan bangga, karena pemrakarsanya adalah Kaum Muda, yang biasanya kurang peduli tentang hal-hal seperti itu. Serta-merta saya seperti tergugah untuk merefleksi kembali peristiwa hampir 80 tahun yang lalu, saat diselenggarakan Kongres Pemuda Ke-2. Ketika itu Kaum Muda Indonesia telah melahirkan wawasan kebangsaan dan mendorong percepatan menuju tercapainya Indonesia Merdeka.

Sejarah mencatat, kongres itu melahirkan “Soempah Pemoeda” yang terkenal dengan ikrar 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia', yang oleh Pemuda Yamin disebut 'Roch Indonesia'. Mungkin suasana inilah yang memberi inspirasi Kaum Muda Yogya saat itu, perlunya menegaskan kembali 'Semangat Keistimewaan Yogya'. Barangkali sekarang ini ada kegayutannya jika menyebut 'Ruh Yogyakarta' dalam kontribusinya terhadap 'Ruh Indonesia'.

Setidaknya dalam embrio gagasannya sudah terentang pada garis benang merahnya pada aspek historis yang harus diisi dengan kearifan budaya yang digali dari bumi sejarah Yogyakarta sendiri sejak menjadi Kota Revolusi dan Ibukota Republik.

Sesungguhnya sudah lama, keinginan warga masyarakat untuk memiliki regulasi yuridis yang memadai guna mengatur kompleksitas predikat keistimewaan DIY, sebagai 'Ruh Yogyakarta'. Tetapi sampai sekarang kandungan 'ruh' keistimewaan itu belum juga terwujud. Dalam upaya menyusun penyempurnaan regulasi dalam rangka keistimewaan DIY, setidaknya tiga “ruh” penting yang patut dipertimbangkan. Pertama, pemahaman yang komprehensif tentang sejarah DlY, baik sejarah masyarakat maupun pemerintahannya. Kedua, perkembangan kekinian, dengan munculnya pro dan kontra di masyarakat, di antara politisi dengan pandangan dan kepentingan politiknya serta pakar sejarah dan ketatanegaraan. Ketiga, persoalan status tanah-tanah di DlY yang belum mendapatkan kepastian hukum, yang akan punya implikasi luas di masyarakat pada masa yang akan datang. (From 'the Soul of Yogyakarta' to enrich 'the Soul of Indonesia').

Makna Keistimewaan

HARUS diakui, jika kita memang belum final merumuskan secara eksplisit tentang makna keistimewaan, maka adalah tugas kita bersama untuk menegaskan makna tersebut, agar kita memiliki kesamaan prinsip dan pemahaman. Padahal konstitusi telah mengamanatkan, bahwa pengakuan atas Keistimewaan sudah secara jelas dan tegas dinyatakan dalam UUD 1945 Pasal 18 beserta amandemennya. Demikian juga dengan sejumlah UU mengenai penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, termasuk UU No 32 Tahun 2004.



Tahta untuk Rakyat

Peneguhan tekad Tahta Untuk Rakyat, demikian juga Tahta Bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat, adalah komitmen Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang akan selalu membela kepentingan rakyat, dengan berusaha untuk bersama rakyat, dan memihak rakyat. Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam konteks keberpihakan Kraton terhadap rakyat dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran serta meningkatkan kualitas hidup rakyat. Oleh karena itu, Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam penyikapan Kraton yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Hamangku, Hamengku, Hamengkoni.

Dengan demikian, Tahta Untuk Rakyat menegaskan hubungan dan keberpihakan Kraton terhadap Rakyat, sebagaimana tertuang dalam konsep filosofis “Manunggaling Kawula-Gusti”. Keberadaan Kraton karena adanya rakyat, sementara rakyat memerlukan dukungan Kraton agar terhindar dari eksploitasi yang bersumber dari ketidakadilan dan keterpurukan. Kraton tidak akan ragu-ragu memperlihatkan keberpihakan terhadap Rakyat, sebagaimana pernah dilaksanakan pada masa-masa Revolusi dulu.

The Substances of Yogyakarta Special Province are contained in Article 18 of the Constitution 1945 and its amendments, as well as contained in several Laws including Law Number 32 Year 2004.


Sikap Spiritual-Kultural

PADA intinya, dalam kita membangkitkan semangat bangsa dari krisis yang berkepanjangan ini, hendaknya kembali merevitalisasi khasanah lama yang sudah terpateri dalam sejarah perjuangan bangsa, karena di sana telah dengan lengkap memuat sumber moralitas, spirit maupun 'ruh' ke Indonesiaan. Demikian juga dalam merunut Keistimewaan DIY, juga mengandung pesan dan penegasan terhadap makna tersirat dalam dokumen sejarah yang tak terbantahkan. Bukankah Bung Karno pernah berpesan: "Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah?".

Itulah sekelumit nilai-nilai substansial yang sejatinya menandai ciri khas keistimewaan DIY berbeda dengan propinsi lain, yang ingin saya titipkan kepada seluruh Rakyat. Semua uraian itu sesungguhnya adalah sebuah renungan dan ajakan untuk mengkaji kembali sejarah keberadaan Pemerintahan DIY beserta masyarakatnya.

Selanjutnya setelah saya pertimbangkan secara mendalam dengan laku spiritul memohon petunjuk-Nya, maka saya harus mengambil ketegasan Sikap Spiritual-Kultural yang saya tuangkan dalam sebuah Pernyataan Sejarah, sebagai berikut:

  1. Dengan tulus ikhlas saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY pada purna masa jabatan tahun 2003-2008 nanti.
  2. Selanjutnya saya titipkan Masyarakat DIY kepada Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY yang akan datang.

(The Historical Statement of Sultan Hamengku Buwono X as the Spiritual-Cultural StandPoint:

  1. With all my heart and soul, I sincerely declare that I am not willing to take hold of the Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province on the next post-period of 2003-2008.
  2. Furthermore, I entrust the people of Yogyakarta to the next Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province.)

Pesan Kesejarahan

MAKA, guna menandai momentum Tasyakuran malam ini, saya ingin membacakan sebuah Renungan dan Pesan Kesejarahan melalui puisi

'Kesaksianku'

Dengan mengucap Bismillahhirahmannirahim kuguratkan kesaksianku:
Sang Mandala berputar meninggalkan jejak-jejak sejarah
Tanpa berpaling berdasa warsa terlampaui
Zaman berganti mengikuti kala yang berganti
Hanya Dia yang tak terganti
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆ­illallaah
Aku takkan bermakna tanpa mereka
Mereka yang memiliki arti
Mereka yang bersuara
Suara-suara yang jelas terdengar
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆ­illallaah
Suara-suara itu kini makin keras terdengar
Bukan dari mulut semata, bukan dari kekosongan belaka
Suara-suara dari jiwa-jiwa yang ingin merdeka
Suara-suara kawula yang menyatu dengan alam raya
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Itulah suara hati, suara nurani
dari mereka yang berjalan bersamaku
Guratanku adalah suara mereka
Jeritanku adalah jeritan mereka
Tangisku adalah tangis mereka
Ceriaku adalah ceria mereka
Hatiku adalah hati mereka jua.


Melalui Sikap dan Pernyataan serta Renungan dan Pesan seperti itu, lewat guratan “Kesaksianku” ini, hendaknya 'Ruh Yogyakarta' itu diaktualisasikan dengan ruh baru, ruh kemajuan, ruh demokrasi yang berkeadilan, sesuai akar budaya yang kita miliki dan tantangan masa depan.

Berkaitan dengan Malam Tasyakuran ini, Anand Krishna mengambil jalur penafsiran “Jangka Jayabaya” yang berbeda. Jayabaya mengajak kita untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Jangankan menantikan sosok 'Herumukti', seorang tokoh 'dari langit' yang bersenjatakan trisula, tombak tajam bermata tiga: kebenaran, keadilan dan kejujuran, dia melihat Jayabaya berbicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia, yang sejatinya adalah kita-kita sendiri juga!

Tampaknya secara tematik ada relevansinya dengan acara malam ini, di mana kita-kita sendirilah yang harus menangkap makna tersirat dalam bait lagu perjuangan di awal tulisan ini: "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya" -membangun jiwa-raga guna 'Berbakti Bagi Ibu Pertiwi'.

Pagelaran Keraton Yogyakarta 7 April 2007
Sri Sultan Hamengku Buwono X

Rabu, 12 November 2008

PEPATAH JAWA [4]

MENANG MENENG NGGEMBOL KRENENG
Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti diam-diam mengantongi kreneng. Kreneng dalam khasanah Jawa menunjuk pada pengertian sebuah benda menyerupai keranjang yang terbuat dari bilah bamboo yang diraut tipis dan lentur. Kreneng ini berfungsi untuk membungkus atau mewadahi barang-barang belanjaan yang dibawa oleh seseorang. Umumnya kreneng berfungsi sebagai kantong atau tas sementara yang kemudian bisa dibuang begitu saja setelah barang yang berada di dalamnya dikeluarkan.

Pepatah di atas secara luas ingin menggambarkan perilaku seseorang yang di permukaan (fisik, lahiriah) kelihatan pendiam, tidak banyak omong akan tetapi di pikiran dan di hatinya sebenarnya dia tengah mempersiapkan atau menyimpan sesuatu (yang umumnya tidak baik). Entah itu berupa rencana-rencana atau tujuan-tujuan yang tidak mulia. Entah itu rekayasa manipulasi, kebohongan, dan seterusnya.

NABOK NYILIH TANGAN
Pepatah di atas secara harfiah berarti memukul meminjam tangan. Secara luas berarti memukul dengan meminjam tangan orang lain. Pepatah ini ingin menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial sering ada orang yang bertindak tidak ksatria. Artinya, ketika dia ingin menjatuhkan, menyakiti, menyingkirkan, membunuh, dan melenyapkan orang lain ia tidak bertindak sendiri. Tidak menghadapinya sendiri. Namun dengan menggunakan (meminjam) tangan orang lain sehingga seolah-olah dirinya adalah orang yang bersih, baik, dan suci. Seringkali perkara demikian dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang meminjam tangan itu sepertinya tidak terkait dengan persoalan yang tengah terjadi, yang menimpa orang yang kena “pukul” itu.

NAPAKAKE ANAK PUTU
Pepatah ini secar harfiah berarti bertapa untuk anak cucu. Napakake berasal dari kata tapa atau bertapa. Napakake berarti bertapa untuk... Secara luas pepatah ini mengajarkan atau memberikan nasihat agar orang hidup di dunia ini tidak hanya mengejar kepuasan, kepopuleran, dan kesejahteraan dirinya sendiri. Ia harus ingat bahwa ia akan mempunyai keturunan. Keturunan inilah yang perlu dibantu agar hidupnya kelak lancar, sejahtera, dan bahagia. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan bertapa (laku prihatin). Bertapa dapat disamakan dengan tekun berdoa kepada Tuhan, memohon keridaan-Nya agar Tuhan bersedia melimpahkan rahamat-Nya kepada keturunan yang didoakannya itu.

NGUNDHUH WOHING PAKARTI
Pepatah di atas secara harfiah berarti memanen buah pekerjaan/tindakan. Secara luas peribahasa ini ingin mengajarkan tentang orang yang menuai dari buah tindakannya sendiri. Hal ini dapat dicontohkan misalnya karena seseorang selalu mencelakai atau merugikan orang lain, maka pada suatu ketika ia pun akan diperlakukan demikian pula oleh orang lain.

NULUNG MENTHUNG
Pepatah ini secara harfiah berarti menolong mementung, secara luas ingin menggambarkan perilaku orang yang kelihatannya nulung (menolong), namun sesungguhnya ia mementung (memukul/mencelakai) orang yang ditolongnya itu.

SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI DITOHI PATI
Pepatah ini secara harfiah berarti satu sentuhan dahi, satu jari (lebar)-nya bumi bertaruh kematian; secara luas berarti satu sentuhan pada dahi dan satu pengurangan ukuran atas tanah (bumi) selebar jari saja bisa dibayar, dibela dengan nyawa (pati). Pepatah ini sebenarnya secara tersirat ingin menegaskan bahwa tanah dan kehormatan atau harga diri merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan orang pun sanggup membela semuanya itu dengan taruhan nyawanya.

SAPA GAWE BAKAL NGANGGO
Pepatah ini secara harfiah berarti siapa membuat bakal memakai, secara luas bermakna bahwa siapa pun yang membuat sesuatu dia sendirilah yang akan memakainya. Artinya, bahwa apa pun yang dilakukan seseorang, dia sendirilah yang akan bertanggung jawab.

SAPA NANDUR BAKAL NGUNDHUH
Pepatah ini secara harfiah berarti siapa menanam akan menuai, secara luas berarti bahwa apa pun yang kita perbuat di dunia ini akan ada hasilnya sesuai dengan apa yang kita perbuat. Ibarat orang menanam pohon pisang, ia pun akan menuai pisang di kemudian hari. Jika ia menanam salak ia pun akan menuai salak di kemudian hari.

TUNA SATAK BATHI SANAK
Pepatah ini secara harfiah berarti rugi satu tak (satu ukuran uang /segepok uang) untung saudara, mengajarkan bahwa sekalipun dalam dunia dagang yang pertimbangan utamanya hanyalah mencari untung dan untung, bagi orang Jawa kerugian sekian uang tidak mengapa asal (masih) bisa mendapatkan sedulur ‘saudara’ atau teman. Teman (dalam arti sesungguhnya) tampaknya memang menjadi pilihan yang lebih mempunyai makna daripada sekadar uang (material).

TUNGGAK JARAK MRAJAK TUNGGAK JATI MATI
Pepatah ini secara harfiah berarti tunggak (pohon) jarak menjadi banyak tunggak jati mati. Mrajak dalam khasanah bahasa Jawa dapat diartikan sebagai berkembang biak. Dalam realitasnya pohon jarak memang akan bertunas kembali meskipun batangnya dipatahkan. Sedangkan tanaman jati bila dipotong batangnya biasanya akan mati. Jikalau tumbuh tunas baru, biasanya tunas baru ini tidak akan tumbuh sesempurna batang induknya. Pepatah ini ingin menggambarkan tentang keadaan orang dari kalangan kebanyakan yang bisa berkembang (mrajak) dan sebaliknya, orang dari kalangan/trah bangsawan/berkedudukan tinggi yang tidak punya generasi penerus (mati). Keadaan semacam ini kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat. Ada begitu banyak orang yang memiliki kedudukan tinggi, namun ia berasal dari kalangan rakyat biasa. Artinya, orang tuanya adalah orang biasa-biasa saja. Tidak kaya, tiak berpangkat, dan tidak memiliki garis keturunan bangsawan (jati). Sebaliknya pula banyak anak-anak atau keturunan orang-orang besar/berkedudukan/berdarah bangsawan yang keturunannya tidak mengikuti atau tidak bisa meniru atau melebihi kedudukan leluhurnya.

WANI NGALAH LUHUR WEKASANE
Pepatah ini secara harfiah berarti berani mengalah akan mulia di kemudian hari. Orang boleh saja mencemooh pepatah yang sekilas memperlihatkan makna tidak mau berkompetisi, pasrah, penakut, lemah, dan sebagainya. Namun bukan itu sesungguhnya yang dimaksudkan. Wani ngalah sesungguhnya dimaksudkan agar setiap terjadi persoalan yang menegangkan orang berani mengendorkan syarafnya sendiri atau bahkan undur diri. Lebih-lebih jika persoalan itu tidak berkenaan dengan persoalan yang sangat penting. Contoh lain dari pepatah ini bisa juga dilihat misalnya dalam sebuah kerja bareng masak-memasak. Ketika semua orang terlibat urusn memasak, ada satu dua orang yang hanya berlaku atau berlagak seperti mandor. Akan tetapi begitu masakan itu matang orang yang berlagak seperti mandor itu justru yang makan pertama kali bahkan tidak memikirkan cukup tidaknya makanan tersebut bagi orang lain yang telah mempersiapkannya.

WIT GEDHANG AWOH PAKEL
Pepatah ini secara harfiah diartikan ‘pohon pisang berbuah pakel’ (sejenis mangga yang sangat harum aromanya jika matang namun agak asam rasanya). Dalam kehidupan nyata jelaslah amat mustahil terjadi ada pohon pisang yang berbuah pakel. Dari sisi jenis pohon, marga, kelas, dan ordonya saja sudah amat jauh berbeda. Demikian juga sifat-sifat yang dibawanya. Pepatah ini digunakan untuk menggambarkan betapa mudahnya berbicara atau ngomong, namun sulit melaksanakan, mengerjakan, atau mewujudkannya. Pepatah itu dapat juga digunakan untuk menggambarkan betapa sebuah teori begitu mudah diomongkan atau dituliskan namun tidak mudah untuk dipraktikkan.

PEPATAH JAWA [3]

KAYA NGENTENI THUKULE JAMUR ING MANGSA KETIGA
Pepatah ini secara harfiah berarti seperti menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau, secara luas ingin menunjukkan sebuah aktivitas yang sia-sia. Jamur identik dengan kelembaban. Kelembaban tidak berkait erat dengan air. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sudah bisa mengidentifikasi/memperkirakan bahwa jika musim hujan tiba, maka akan ada banyak jamur bertumbuhan di sembarang tempat. Akan tetapi jika musim kemarau tiba, jamur hampir tidak mungkin didapatkan di mana pun. Berdasarkan ilmu titen inilah kemudian muncul pepatah itu. Jadi, sangat tidak mungkin mengharapkan tumbuhnya jamur di musim kemarau. Jika kita mempunyai pengharapan yang dinanti namun tidak pernah terwujud itu ibaratnya menunggui tumbuhnya jamur di musim kemarau. Bisa juga pepatah ini digunakan untuk aktivitas menunggu yang amat lama sehingga seperti menunggui sesuatu yang tidak jelas atau tidak berjuntrung.

KEBO NYUSU GUDEL
Pepatah tersebut di atas secara harfiah berarti kerbau menyusu gudel. Gudel adalah nama anak kerbau. Jadi pepatah itu menunjukkan sebuah logika yang terbalik atau dibalik.
Maksud dari pepatah itu adalah bahwa orang tua atau dewasa yang meminta pengetahuan, pelajaran, atau bahkan meminta jatah hidup kepada anaknya. Secara logika semestinya orang tua itu lebih dulu tahu, pintar, dan punya uang daripada anaknya. Akan tetapi pada banyak kasus logika semacam itu justru terbalik. Ada banyak orang tua yang minta pengetahuan atau pelajaran serta bahan untuk kelangsungan hidupnya pada anaknya.

KEMLADHEYAN NGAJAK SEMPAL
Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti benalu mengajak patah. Pepatah ini dalam masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai bentuk petuah atau sindiran bagi orang yang menumpang pada seseorang, namun orang yang menumpang itu justru menimbulkan gangguan, kerugian, dan bahkan kebangkrutan bagi yang ditumpanginya.

KESRIMPET BEBED KESANDHUNG GELUNG
Pepatah ini secara harfiah berarti terjerat bebed (kain jarit) tersandung gelung. Secara luas pepatah ini ingin menggambarkan tentang terjeratnya seorang pria pada wanita. Bebed dan gelung dalam masyarakat Jawa adalah identik dengan wanita itu sendiri. Jadi, yang dikatakan sebagai kesrimpet bebed kesandung gelung adalah peristiwa terjeratnya seorang pria (biasanya yang telah berkeluarga) pada wanita wanita lain (bisa gadis, janda, atau ibu rumah tangga). Dalam peristiwa semacam itu si pria bisa tidak berkutik sama sekali (karena telah terjerat dan tersandung) oleh wanita tersebut sehingga kehidupannya menjadi kacau dan serba tunduk pada wanita tersebut. Apa pun yang dimaui wanita itu akan dituruti oleh pria yang terlanjur kesrimpet tersebut.

KUTUK MARANI SUNDUK
Pepatah ini secara harfiah berarti kutuk (jenis ikan air tawar yang relatif besar) mendekati sunduk (penusuk/suji). Secara luas pepatah ini ingin menyatakan tentang kejadian atau peristiwa dari seseorang atau sekelompok orang yang mendatangi atau mendekati bahaya atau hal yang dapat membuatnya celaka. Sunduk atau penusuk adalah pantangan bagi kutuk sebab pada penusuk itulah nyawa kutuk pasti terancam. Hal demikian dapat juga terjadi pada manusia atau orang. Misalnya, ada orang yang tidak bisa berenang, dengan tiba-tiba ia masuk ke dalam sebuah sungai yang dalam, maka tenggelam dan tewaslah orang itu. Dapat juga dilihat contoh lain misalnya, ada orang mendatangi arena peperangan atau pertikaian. Tanpa diketahui orang tersebut terkena peluru nyasar atau lemparan batu. Hal demikian dapat diibaratkan sebagai kutuk marani sunduk. Tegasnya, orang yang mendatangi marabahaya.

PEPATAH JAWA [2]

GUPAK PULUTE ORA MANGAN NANGKANE
Secara harfiah berarti tidak makan nangkanya tetapi terkena getahnya. Secara luas pepatah ini ingin menunjukkan sebuah peristiwa atau kiasan yang menggambarkan akan kesialan seseorang karena ia tidak menikmati hasilnya tetapi justru menerima risiko buruknya.

GUSTI ALLAHE DHUWIT, NABINE JARIT
Secara harfiah berarti menuhankan uang dan menabikan kain. Pepatah ini sebenarnya ingin menggambarkan orang yang hidupnya hanya memburu uang atau harta benda, kemewahan, dan kenikmatan, sehingga yang ada di dalam otak dan hatinya hanyalah bagaimana mendapatkan uang, kemewahan, dan kenikmatan hidup itu.

ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI
Pepatah ini secara harfiah berarti kehilangan satu telur, secara luas ingin menyatakan tentang kepasrahan atau keputusasaan seseorang (biasanya orang tua) atas perilaku anaknya yang dianggap sudah di luar batas. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Secara harfiah berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun kehendak/karya, mengikuti dari belakang memberikan daya. Maksud kalimat pertama pada pepatah ini yakni di depan [maksudnya pemimpin] hendaknya dapat memberikan teladan. Jika berada di tengah-tengah anak buahnya hendaknya bisa membangkitkan kegairahan agar anak buah bisa bersemangat untuk berkarya atau bekerja. Apabila berada di belakang anak buahnya hendaknya ia bisa mendorong, memotivasi, bahkan juga mencurahkan segala dayanya sehingga anak buahnya bisa benar-benar memiliki daya untuk berkarya.

KAYA KODHOK KETUTUPAN BATHOK
Secara harfiah berarti seperti katak di dalam tempurung. Apa yang dilihat, diketahui, dan dirasakan katak di dalam tempurung tentunya hanyalah dunia di dalam tempurung itu. Secara luas pepatah ini ingin mengatakan bahwa orang yang pikiran, referensi, pengetahuan, dan pengalamannya tidak banyak tentu tidak akan tahu banyak hal. Orang yang tidak meluaskan pengalamannya hanya akan berbicara hal-hal yang sempit, sebatas yang dia ketahui. Orang yang pengetahuannya masih sedikit sebaiknya tidak berlaku seperti katak dalam tempurung. Karena katak di dalam tempurung itu yang dia ketahui hanya sebatas dunia tempurung itu. Ia tidak tahu ada dunia yang lebih luas di luar sana. Untuk itu orang diharapkan untuk meluaskan pengetahuannya agar tidak bersikap seperti katak dalam tempurung.

KAYA NGENTENI KEREME PRAU GABUS, KUMAMBANGE WATU ITEM
Pepatah ini secara harfiah berarti seperti menantikan tenggelamnya perahu gabus, mengapungnya batu hitam (batu kali). Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan akan sebuah usaha yang sia-sia. Usaha yang tingkat keberhasilannya adalah nol persen. Mungkin saja pepatah ini sama artinya dengan pepatah Ibarat menunggu Godod yang sebenarnya diadopsi dari lakon drama karya Samuel Beckett. Drama ini juga menggambarkan akan sebuah penantian yang sia-sia. Penantian pada sesuatu yang tidak akan datang atau terjadi.

PEPATAH JAWA [1]

ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA, ADIWICARA
Menyombongkan keelokan badan atau wajah, menyombongkan besarnya tubuh atau garis keturunan, menyombongkan ilmu atau pengetahuannya, dan menyombongkan kelihaian berbicara.

ADOH TANPA WANGENAN CEDHAK DATAN SENGGOLAN
Jauh tanpa ukuran dekat tidak senggolan. Pepatah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan keberadaan kekasih. Orang yang tengah dilanda cinta biasanya akan merasa kangen terus dengan orang yang dicintai. Jika sang kekasih tidak berada di sisinya, memang terasa begitu jauh. Namun, di balik itu sesungguhnya sang kekasih juga sangat dekat dengan dirinya, yakni berada di dalam hatinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kekasih itu berada jauh namun sesungguhnya jua sangat dekat, namun tidak bisa bersentuhan.

AJINING RAGA DUMUNUNG ANA ING BUSANA
Secara harfiah pepatah ini berarti harga diri tubuh terletak pada pakaian. Pepatah ini ingin menyatakan bahwa jika seseorang berbusana dengan sembarangan di sembarang tempat maka jati dirinya tidak akan dihargai oleh orang lain.

AMEMAYU HAYUNING BUWANA
Secara harfiah berati mempercantik kecantikan dunia. Pepatah ini menyarankan setiap manusia dapat menjadi agen bagi tujuan itu. Bukan hanya mempercantik atau membuat indah kondisi dunia dalam pengertian lahir batin, namun juga bisa membuat hayu dalam pengertian rahayu ’selamat’ dan sejahtera.

ANCIK-ANCIK PUCUKING ERI
Secara harfiah berarti bertumpu pada ujung duri. Secara lebih luas pepatah ini ingin menyatakan keadaan yang begitu gawat, kritis, dan nyaris tidak tertolong lagi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seseorang yang bertumpu pada ujung duri.

ASU BELANG KALUNG WANG
Secara harfiah berarti anjing belang berkalung uang. Secara lebih jauh pepatah ini menggambarkan keadaan orang yang secara visual buruk atau secara sosial tidak mempunyai peringkat yang tinggi, namun ia memiliki kekayaan yang berlimpah.

DIJUPUK IWAKE AJA NGANTI BUTHEG BANYUNE
Secara harfiah berarti diambil ikannya jangan sampai keruh airnya. Pepatah ini secara luas menyangkutkan persoalannya pada pengambilan kebijaksanaan atau penyelesaian masalah yang diidealkan jangan sampai menimbulkan korban atau masalah baru.

GELEM JAMURE EMOH WATANGE
Secara harfiah berarti mau jamurnya tidak mau bangkainya. Pepatah ini secara luas ingin menggambarkan keadaan [seseorang] yang hanya mau enaknya tetapi tidak mau jerih payahnya.

Selasa, 11 November 2008

Tipe Wanita Jawa Ideal Menurut Kamasutra Jawa!

Masyarakat Jawa Kuno mengenal dua macam tipe wanita yang pantas dinikahi:

1. Tipe Padmanagara

Tipe ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Lambe iwir manggis karengat (bibir bagaikan buah manggis terbuka)
  • Lirikane sor madu juruh (kerling matanya mengalahkan manisnya juruh madu)
  • Sor tang nyuh danta santene (payudaranya mengalahkan kelapa gading)
  • Wangkong iwir limas angene (pantat bagai limas yang baik)
  • Wentis iwir pudak angrawit (betis bagai bunga pudak yang mempesona)
  • Delamakan gamparan gading (telapak kaki seperti gamparan gading)
  • Adege padmanagara (tubuhnya seperti padmanagara)
  • Lumampah giwang lan gangsa (lenggangnya beralun senada gamelan, seperti seekor angsa)
  • Panepi iwir patrem konus (pinggang bagai patrem terhunus)
  • Pupu iwir pol ginempotan (paha bagai daun palma yang diserut halus)

2. Tipe Nariswari

Tipe ini memiliki ciri-ciri: murub rahasyanipun (menyala rahasianya). Ciri-ciri lainnya berkaitan dengan tingkat spiritualitas dan inner beauty wanita. Ken Dedes merupakan contoh tipe ini.

Adapun tipe wanita Jawa ideal adalah sebagai berikut:
  • Kusuma Wicitra: Ibaratnya bunga mekar yang sangat mempesona, yang siap untuk dipetik. Wanita yang ideal sebaiknya mempersiapkan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan agama, mengharumkan dirinya dengan perbuatan baik, menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.
  • Padma Sari: Ibaratnya bunga teratai yang sedang mekar di kolam. Bunga teratai dalam budaya Jawa merupakan simbul kemesraan, sehingga yang dimaksudkan dengan wanita ideal dalam konsep ini adalah wanita cantik yang penuh kasih mesra hanya bila bersama dengan suaminya.
  • Sri Pagulingan: Ibaratnya cahaya yang sangat indah di peraduan/singgasana raja. Wanita yang ideal sebaiknya tidak hanya cantik jasmaninya, namun juga dapat mempersembahkan dan menunjukkan kecantikannya hanya kepada suaminya ketika berolah asmara di peraduan.
  • Sri Tumurun: Ibaratnya bidadari nirwana yang turun ke dunia. Wanita yang ideal sebaiknya cantik raga dan jiwanya. Ini dibuktikan dengan kesediannya untuk "turun", berinteraksi dengan rakyat jelata, kaum yang terpinggirkan untuk menebarkan cahaya cinta dan berbagi kasih.
  • Sesotya Sinangling: Ibaratnya intan yang amat indah, berkilauan. Wanita yang ideal sebaiknya selalu dapat menjadi perhiasan hanya bagi suaminya, sehingga dapat memperindah dan mencerahkan hidup dan masa depan suaminya, juga keluarganya.
  • Traju Mas: Ibaratnya alat untuk menimbang emas. Ini merupakan simbol wanita setia yang selalu dapat memberikan saran, pertimbangan, nasihat, demi terciptanya keluarga yang sakinah.
  • Gedhong Kencana: Ibaratnya gedung atau rumah yang terbuat dari emas, dan berhiaskan emas. Ini merupakan simbul wanita yang berhati teduh dan berjiwa teguh sehingga dapat memberikan kehangatan dan kedamaian bagi suami dan keluarganya.
  • Sawur Sari: Ibaratnya bunga yang harum semerbak. Wanita yang ideal sebaiknya dikenal karena kebaikan hatinya, keluhuran budi pekertinya, kehalusan perasaannya, keluasan ilmunya, kemuliaan akhlaknya. Kecantikan fisik dan kekayaan harta yang dimiliki wanita hanya sebagai pelengkap, bukan syarat mutlak seorang wanita ideal.
  • Pandhan Kanginan: Ibaratnya pandhan wangi yang tertiup angin. Ini merupakan simbul wanita yang amat menggairahkan, menawan, dan memikat hati. Dapat dilukiskan sebagai: tinggi semampai, berparas cantik, berkulit kuning langsat, berbibir merah alami, berpayudara montok, murah senyum, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, dapat memberikan keturunan.

Dalam Serat Yadnyasusila dijelaskan tentang tiga hal yang harus dimiliki oleh seorang wanita agar dapat menjadi wanita idaman:
  • Merak ati atau merak ati: Membina kemanisan dengan mempercantik dan merawat diri (ngadi warni), memperindah busana (ngadi busana), berwajah ceria (ngadi wadana), murah senyum (sumeh), santun dalam bertutur kata (ngadi wicara), dan sopan serta luwes dalam berperilaku (ngadi solah bawa).
  • Gemati: Siap untuk merawat, mengasuh, mendidik putra-putrinya, mengatur rumah tangga, melayani suami dengan penuh keikhlasan.
  • Luluh: Berarti mampu selalu menyenangkan hati suaminya, selalu menyediakan waktu setiap hari untuk suami dan anak-anaknya, sabar dan gembira saat mengasuh anak-anaknya, dan selalu berusaha menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dalam keluarganya.
Untuk menikahi wanita, dalam tradisi Jawa ada beberapa faktor yang biasanya menjadi bahan pertimbangan yaitu 3B:
  • Bibit: Berkaitan dengan asal-usul atau keturunan wanita yang akan dinikahi.
  • Bobot: Berkaitan dengan kualitas baik secara lahiriah maupun batiniah.
  • Bebet: Berkaitan dengan lingkungan pergaulan keluarga maupun lingkungan wanita yang akan dinikahi.

Bunda

di Mrapen