Orasi Budaya: Berbakti bagi Ibu Pertiwi
Oleh Sultan Hamengku Buwono X
Latar BelakangOleh Sultan Hamengku Buwono X
BAIT lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman: ".....bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.....", seharusnya dapat menyentuh hati, menginspirasi pikiran dan menggerakkan tindakan dari segenap anak bangsa untuk bangkit “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi” meraih kejayaan bangsa.
Kini, di usia menjelang ke-62 tahun, Indonesia sudah menjadi Ibu Pertiwi yang tua-renta, seakan kehabisan energi dan kehilangan masa depannya. Indonesia, Ibu Pertiwi kita ini, dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan yang menjual harga diri kita sebagai bangsa. Entahlah, mengapa kita menggadaikan negeri ini kembali ke kaum penjajah, yang sepanjang sejarah sudah kita lawan bersama.
Sekarang ini, Ibu Pertiwi sedang tertatih-tatih sambil menangis di tengah pertarungan global yang ketat dan keras. Kondisi ini terjadi, akibat penderitaan beruntun yang menghantam wajah Negeri ber-Sang Saka Merah-Putih ini. Memang, hidup penuh air mata seringkali menjadikan kita kebal, mungkin karena hilang harapan atau bahkan tidak peduli, sepertinya tidak ada yang perlu dipertaruhkan lagi.
Kini Ibu Pertiwi termenung sendiri, merana, menangis dan berdoa. Bukan saja karena melihat anak-anaknya sedang bertikai tiada henti. Tetapi, ia juga sedang mengandung bayi reformasi, yang belum juga kunjung lahir dari rahimnya. Kita berdoa, semoga itu anak terakhir, dan menjadi Parikesit dalam menapaki era baru seperti episode Mahabarata.
Sekaranglah saatnya kita tunjukkan, bahwa kita mampu bangkit dari keterpurukan dan “Berbakti Bagi Ibu Pertiwi”, seperti John F. Kennedy yang mengatakan: "Jangan bertanya apa yang sudah diberikan bangsa ini kepada kita, tetapi tanyakan apa yang sudah kita berikan terhadap bangsa ini". Now is the right time in 'Devoting to our Mother Land'.
Ruh Yogya untuk Indonesia
KETIKA saya menerima gagasan akan digelar wacana tentang Keistimewaan DIY (2), ada perasaan bangga, karena pemrakarsanya adalah Kaum Muda, yang biasanya kurang peduli tentang hal-hal seperti itu. Serta-merta saya seperti tergugah untuk merefleksi kembali peristiwa hampir 80 tahun yang lalu, saat diselenggarakan Kongres Pemuda Ke-2. Ketika itu Kaum Muda Indonesia telah melahirkan wawasan kebangsaan dan mendorong percepatan menuju tercapainya Indonesia Merdeka.
Sejarah mencatat, kongres itu melahirkan “Soempah Pemoeda” yang terkenal dengan ikrar 'Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia', yang oleh Pemuda Yamin disebut 'Roch Indonesia'. Mungkin suasana inilah yang memberi inspirasi Kaum Muda Yogya saat itu, perlunya menegaskan kembali 'Semangat Keistimewaan Yogya'. Barangkali sekarang ini ada kegayutannya jika menyebut 'Ruh Yogyakarta' dalam kontribusinya terhadap 'Ruh Indonesia'.
Setidaknya dalam embrio gagasannya sudah terentang pada garis benang merahnya pada aspek historis yang harus diisi dengan kearifan budaya yang digali dari bumi sejarah Yogyakarta sendiri sejak menjadi Kota Revolusi dan Ibukota Republik.
Sesungguhnya sudah lama, keinginan warga masyarakat untuk memiliki regulasi yuridis yang memadai guna mengatur kompleksitas predikat keistimewaan DIY, sebagai 'Ruh Yogyakarta'. Tetapi sampai sekarang kandungan 'ruh' keistimewaan itu belum juga terwujud. Dalam upaya menyusun penyempurnaan regulasi dalam rangka keistimewaan DIY, setidaknya tiga “ruh” penting yang patut dipertimbangkan. Pertama, pemahaman yang komprehensif tentang sejarah DlY, baik sejarah masyarakat maupun pemerintahannya. Kedua, perkembangan kekinian, dengan munculnya pro dan kontra di masyarakat, di antara politisi dengan pandangan dan kepentingan politiknya serta pakar sejarah dan ketatanegaraan. Ketiga, persoalan status tanah-tanah di DlY yang belum mendapatkan kepastian hukum, yang akan punya implikasi luas di masyarakat pada masa yang akan datang. (From 'the Soul of Yogyakarta' to enrich 'the Soul of Indonesia').
Makna Keistimewaan
HARUS diakui, jika kita memang belum final merumuskan secara eksplisit tentang makna keistimewaan, maka adalah tugas kita bersama untuk menegaskan makna tersebut, agar kita memiliki kesamaan prinsip dan pemahaman. Padahal konstitusi telah mengamanatkan, bahwa pengakuan atas Keistimewaan sudah secara jelas dan tegas dinyatakan dalam UUD 1945 Pasal 18 beserta amandemennya. Demikian juga dengan sejumlah UU mengenai penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, termasuk UU No 32 Tahun 2004.
Tahta untuk Rakyat
Peneguhan tekad Tahta Untuk Rakyat, demikian juga Tahta Bagi Kesejahteraan Kehidupan Sosial-Budaya Rakyat, adalah komitmen Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang akan selalu membela kepentingan rakyat, dengan berusaha untuk bersama rakyat, dan memihak rakyat. Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam konteks keberpihakan Kraton terhadap rakyat dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran serta meningkatkan kualitas hidup rakyat. Oleh karena itu, Tahta Untuk Rakyat harus dipahami dalam penyikapan Kraton yang diungkapkan dengan bahasa sederhana Hamangku, Hamengku, Hamengkoni.
Dengan demikian, Tahta Untuk Rakyat menegaskan hubungan dan keberpihakan Kraton terhadap Rakyat, sebagaimana tertuang dalam konsep filosofis “Manunggaling Kawula-Gusti”. Keberadaan Kraton karena adanya rakyat, sementara rakyat memerlukan dukungan Kraton agar terhindar dari eksploitasi yang bersumber dari ketidakadilan dan keterpurukan. Kraton tidak akan ragu-ragu memperlihatkan keberpihakan terhadap Rakyat, sebagaimana pernah dilaksanakan pada masa-masa Revolusi dulu.
The Substances of Yogyakarta Special Province are contained in Article 18 of the Constitution 1945 and its amendments, as well as contained in several Laws including Law Number 32 Year 2004.
Sikap Spiritual-Kultural
PADA intinya, dalam kita membangkitkan semangat bangsa dari krisis yang berkepanjangan ini, hendaknya kembali merevitalisasi khasanah lama yang sudah terpateri dalam sejarah perjuangan bangsa, karena di sana telah dengan lengkap memuat sumber moralitas, spirit maupun 'ruh' ke Indonesiaan. Demikian juga dalam merunut Keistimewaan DIY, juga mengandung pesan dan penegasan terhadap makna tersirat dalam dokumen sejarah yang tak terbantahkan. Bukankah Bung Karno pernah berpesan: "Janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah?".
Itulah sekelumit nilai-nilai substansial yang sejatinya menandai ciri khas keistimewaan DIY berbeda dengan propinsi lain, yang ingin saya titipkan kepada seluruh Rakyat. Semua uraian itu sesungguhnya adalah sebuah renungan dan ajakan untuk mengkaji kembali sejarah keberadaan Pemerintahan DIY beserta masyarakatnya.
Selanjutnya setelah saya pertimbangkan secara mendalam dengan laku spiritul memohon petunjuk-Nya, maka saya harus mengambil ketegasan Sikap Spiritual-Kultural yang saya tuangkan dalam sebuah Pernyataan Sejarah, sebagai berikut:
- Dengan tulus ikhlas saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY pada purna masa jabatan tahun 2003-2008 nanti.
- Selanjutnya saya titipkan Masyarakat DIY kepada Gubernur/Kepala Daerah Propinsi DIY yang akan datang.
(The Historical Statement of Sultan Hamengku Buwono X as the Spiritual-Cultural StandPoint:
- With all my heart and soul, I sincerely declare that I am not willing to take hold of the Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province on the next post-period of 2003-2008.
- Furthermore, I entrust the people of Yogyakarta to the next Governor/Regional Leader of the Yogyakarta Special Province.)
Pesan Kesejarahan
MAKA, guna menandai momentum Tasyakuran malam ini, saya ingin membacakan sebuah Renungan dan Pesan Kesejarahan melalui puisi
'Kesaksianku'
Dengan mengucap Bismillahhirahmannirahim kuguratkan kesaksianku:
Sang Mandala berputar meninggalkan jejak-jejak sejarah
Tanpa berpaling berdasa warsa terlampaui
Zaman berganti mengikuti kala yang berganti
Hanya Dia yang tak terganti
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆillallaah
Aku takkan bermakna tanpa mereka
Mereka yang memiliki arti
Mereka yang bersuara
Suara-suara yang jelas terdengar
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆillallaah
Suara-suara itu kini makin keras terdengar
Bukan dari mulut semata, bukan dari kekosongan belaka
Suara-suara dari jiwa-jiwa yang ingin merdeka
Suara-suara kawula yang menyatu dengan alam raya
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Itulah suara hati, suara nurani
dari mereka yang berjalan bersamaku
Guratanku adalah suara mereka
Jeritanku adalah jeritan mereka
Tangisku adalah tangis mereka
Ceriaku adalah ceria mereka
Hatiku adalah hati mereka jua.
Sang Mandala berputar meninggalkan jejak-jejak sejarah
Tanpa berpaling berdasa warsa terlampaui
Zaman berganti mengikuti kala yang berganti
Hanya Dia yang tak terganti
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆillallaah
Aku takkan bermakna tanpa mereka
Mereka yang memiliki arti
Mereka yang bersuara
Suara-suara yang jelas terdengar
Laa ilaaha’illallaah, Laa ilaahaĆillallaah
Suara-suara itu kini makin keras terdengar
Bukan dari mulut semata, bukan dari kekosongan belaka
Suara-suara dari jiwa-jiwa yang ingin merdeka
Suara-suara kawula yang menyatu dengan alam raya
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Itulah suara hati, suara nurani
dari mereka yang berjalan bersamaku
Guratanku adalah suara mereka
Jeritanku adalah jeritan mereka
Tangisku adalah tangis mereka
Ceriaku adalah ceria mereka
Hatiku adalah hati mereka jua.
Melalui Sikap dan Pernyataan serta Renungan dan Pesan seperti itu, lewat guratan “Kesaksianku” ini, hendaknya 'Ruh Yogyakarta' itu diaktualisasikan dengan ruh baru, ruh kemajuan, ruh demokrasi yang berkeadilan, sesuai akar budaya yang kita miliki dan tantangan masa depan.
Berkaitan dengan Malam Tasyakuran ini, Anand Krishna mengambil jalur penafsiran “Jangka Jayabaya” yang berbeda. Jayabaya mengajak kita untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Jangankan menantikan sosok 'Herumukti', seorang tokoh 'dari langit' yang bersenjatakan trisula, tombak tajam bermata tiga: kebenaran, keadilan dan kejujuran, dia melihat Jayabaya berbicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia, yang sejatinya adalah kita-kita sendiri juga!
Tampaknya secara tematik ada relevansinya dengan acara malam ini, di mana kita-kita sendirilah yang harus menangkap makna tersirat dalam bait lagu perjuangan di awal tulisan ini: "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya" -membangun jiwa-raga guna 'Berbakti Bagi Ibu Pertiwi'.
Pagelaran Keraton Yogyakarta 7 April 2007
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Sri Sultan Hamengku Buwono X



1 komentar:
sri sultan knapa mau nyapres ya om?
padahal beliau lebih baik jadi "guru bangsa" aja
karna klo presiden itu politis bgt
-kum1s-
Posting Komentar